Nikmatknya Teh Tawar selepas santap Nasi Uduk pagi

Beberapa minggu ini saya mulai kerap kali terbangun pagi hari, rutin dan itu cukup menyenangkan dan menyegarkan saat bisa mandi pagi dengan guyuran air dinginnya. Bangun pagi dan mencoba memulai hari dengan mengamati aktifitas sekaligus kebiasaan para pengejar matahari dari timur, banyak sekali dan beragam cara masyarakat merayakan pagi harinya, salah satunya adalah sarapan pagi. Dulu semasa kecil saya kerap menonton sebuah serial TV lokal biasa disebut sinetron, yang dimana mereka (sebuah keluarga) yang memuali harinya di sebuah rumah besar berkumpul dalam satu meja makan besar dengan kursi-kursi yang beberapa tak terisi, komplit dengan seragam si ayah sebagai orang yang berpengaruh di sebuah kantornya dengan memakai kemeja berlapiskan jas berhias dasi, dan beberapa anaknya yang memakai seragam sekolah menengah maupun dasar. Mereka menyantap sebuah hidangan pagi dengan beberapa roti tawar yang dibaluri dengan beberapa selai sebagai perasanya, disetiap samping piring sarapannya gelas berisikan susu adalah simbol pelengkap potret sebuah keluarga yang teramat mampu. Beberapa kali dalam adegan mereka kerap dirundung tergesa, hingga tak sempat menyantap penuh roti lapis diatas piring beserta susu didalam gelas.

Dulu semasa kecil saya pernah bermimpi dan berangan ingin sekali bisa sarapan seperti mereka yang ada dalam serial tv tersebut, sampai saya pernah bicara kepada ibu "mah pengen sarapan roti tawar sama susu dong sesekali". Yaa, semuanya itu karna paradigma yang telah terbangun adalah adalah semua ingin menjadi kaya raya seperti keluarga yang ada dalam TV yang sering kita konsumsi. Potret strata sosial orang yang kaya raya yang dibangun oleh media teramat sering hingga menciptakan bias stereotip. Sampai sekarang pun hidangan pagi serupa itu belum sempat saya cicipi, tapi entah kenapa seiring tumbuh usia, rasanya kok tidak tertarik lagi dengan adegan atau sarapan seperti diatas.

Semakin bertambahnya usia dan wawasan, sekiranya telah membentuk dan menyadarkan bahwa hal-hal seperti itu terkadang tidak terlalu perlu. Justru kenikmatan terbaik adalah saat dirimu bisa menikmati hal-hal yang autentik terbangun dari dasar pengalaman dan perjalanan hidup. Contohnya seperti menyantap gorengan beserta lontong dan sambal kacang sebagai sarapan, lebih menarik untuk beberapa orang. Ada pula menu santap paginya dimulai dari sebungkus nasi uduk dengan lauk semur entah itu tahu, tempe, kentang dan telur bahkan jengkol adalah hidangan yang sangat luar biasa di beberapa wilayah.

Beberapa hari lalu, saya dan salah satu kawan menginap di salah satu rumah seorang kerabat, bercakap, bergurau hingga langit mulai menyala tipis di sebelah timur, pagi itu kami memutuskan pamit dan pergi pulang kembali ke rumah dengan menunggangi motor yang terparkirkan diluar, jok yang sedikit basah terkena guyur hujan malam, dan mesin yang lembab sebab embun pagi sudah mulai datang. Beberapa meter kami telah pergi meninggalkan rumah kerabat, tiba-tiba tunggangan kami pun berhenti menyala, mogok, penyakit motor tua. Mencoba untuk memperbaiki dan melanjutkan perjalanan namun sepertinya gagal, dan kami putuskan untuk kembali bertamu ke rumah kerabat tadi. Kecewa karna tak diberi kesempatan untuk pulang, kami lampiaskan dengan berjalan kaki mencari santapan pagi, berburu sarapan nasi uduk adalah solusi peredam emosi yang muncul sebab kelelahan menuntun motor yang mogok tadi. Nasi uduk dua bungkus dengan lauk semur kentang dan tambahan mendoan sebagai pondasi pagi itu, bukan susu sebagai pelengkap disamping piring santapanl, namu teh tawar hangat yang agak bening adalah jodoh dari nasi uduk kami.

Sebuah berkah atas tidak berjalannya motor kami memunculkan topik pembicaraan selepas sarapan, yang akhirnya kami berdiskusi dengan judul "kenapa teh tawar hangat sangat nikmat bila di seruput selepas sarapan sai uduk pagi?". Yaaa, entah siap yang memulai budaya ini, dan entah siapa yang telah membangun menu paket tersebut, yang jelas ini adalah sebuah mahakarya yang amat mewah di pagi hari, teh tawar hangat akan berbeda rasa dan sensasinya bila diminum saat siang hari atau malam, begitu pula nasi uduk memikiki sensasi tersendiri bila disantap di pagi hari. keduanya amat sangat berjodoh dan kokoh sebagai rumusan solusi untuk pondasi perut memulai hari. Setiap orang memiliki kemewahan tersendiri, dan kami menganggap bahwa nasi uduk dan teh tawar hangat lebih kaya ketimbang roti berselai dengan susu segelas. Paket menu ini sekiranya adalah paket yang  dirindukan bila kita merantau ke negri orang, ya di Amerika, Jepang, bahkan Arab mungkin ada referensi santapan pagi pula, namun tidak bisa menandingi nikmatnya teh tawar hangat yang diminum selepas santap nasi uduk pagi.

Bagaimanapun juga budaya sendiri adalah kemewahan yang dalam dan autentik. Carilah kemurnian yang autentik muncul dalam dirimu, sebab terkadang paradigma yang terbangun adalah hasil dari dogma yang telah dimangun dan terkonsumsi dari media yang semasa kecil kita santap tanpa adanya saringan atau filter yang kuat, kini kita telah dewasa dan sekiranya telah memiliki dan terbentuk filter dalam diri. Menikmati bacaan, tontonan, dendangan lagu dari beberapa negara sebagai referensi diri, sangatlah baik, namun janganlah lupa bahwa dirimu adalah nasi uduk yang nikmat dan bukan hamburger yang penuh lemak.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.