APA KABAR KALIAN?
Berangsur-angsur bulan berjalan tetap pada orbitnya, wabah ini masih terus berputar bak bola salju yang kian membesar, namun bedanya bola salju pada dasarnya mengikuti gravitasi turun menggelinding ke dataran yang lebih rendah, sedangkan COVID sebaliknya membesar dan menuju keatas dalam grafik. Lahir dan meninggal, namun kabar lebih sering berpihak pada duka cita. Kuning janur hingga bendera kerap marak kita jumpai di tiap gang dan tiang listrik jalanan pemukiman. bukan hanya nyawa yang direnggut dan mati, profesi hingga usaha yang berlangsung pun ikut mengisi buku tamu pemakaman. Berita di media makin marak tak terkendali hingga menimbulkan polusi informasi, sebagian menerima ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran, seperti pada umumnya setiap objek pasti ada yang pro dan ada yang kontra, namun kini bunyi sirene ambulan sudah menjadi hal yang lumrah, dan alat penyiar suara (toa) tiap daerah mulai rutin menyebut nama jenazah.
Ditahun 2019 dia lahir, 2020 menjadi tamu negri ini, kerap menjadi kontroversi bahkan konspirasi di tiap obrolan masyarakat. Mengistirahatkan aktifitas selama setengah semester dalam tahun itu, namun akhirnya mau tidak mau kehidupan harus tetap berjalan dan perut harus tetap terisi, maka munculnya masa transisi selepas hibernasi tiga bulan itu. Berharap kita bisa mulai terbiasa berdampingan dan waspada, namun semua pada akhirnya terlena dan kembali dirundung duka dipertengahan tahun selanjutnya (2021). Dua ribu dua satu, mengucap selamat datang dengan bandang yang membungkus nyaris seluruh Jakarta dengan hujan yang tidak pelan-pelan. Pancaroba dan gejala penyakit yang muncul serupa sama dengan gejala wabah virus yang melanda. Bias, percaya tidak percaya masih tetap menjadi obrolan masyarakat dalam menanggapi isu yang berjalan.
Beberapa diantaranya ada yang memutuskan untuk menjadikan tahun ini adalah tahun pembalasan dendam untuk lahir kembali maupun memulai hal yang baru, semisal membuka usaha baru, menyusun strategi anyar, merancang rencana, membalas dan menebus hasrat keluar rumah dengan berlibur, hingga membangun bahtera rumah tangga dengan istilah baru yakni MBP (Married by Pandemic). Meraka yang memulai usaha baru di tahun ini mungkin ada yang menamai merk usahanya dengan embel-embel covid, pandemi, dan vaksin sebagai tanda bahwa meraka lahir dimasa kini, contoh bila mana mereka membuka warung kopi mungkin akan dinamai Coveed Cafe, atau mereka yang berdagang Makanan akan dinamai Pan de Mie.
Beragam rupa dan cara masyarakat merespon keadaan dengan banyaknya ekspresi liar hasil dari terkurungnya mereka ditahun lalu. Kini pada akhirnya keadaan kembali memaksa mereka untuk kembali dalam hastag #dirumahaja, namun yang kali ini lebih berat dan menyakitkan, sebab hampir ingin menyetabilkan ekonomi masing-masing individu yang sempat kemarin telah habis tabungannya untuk membiayai kehidupan dalam balada Lockdown.
Gambaran/simulasi :
Normal(memiliki tabungan, dan ada yang tidak) - Lockdown(tabungan digunakan, yang tidak memiliki terpaksa berhutang) - Transisi(Mulai mencoba menabung kembali, mulai membayar hutang) - Nyaris Normal(Tabungan belum terbentuk, masih ada tanggungan yang belum terbayarkan).
Dimana kita? kita ada dalam mode Nyaris Normal namun mendadak dihajar Nyaris Lockdown. Posisi belum sepenuhnya siap untuk kembali menghadapi, namun roda grafik berjalan tidak dengan permisi. Sebelumnya kabar turunnya saham kripto membuat para pelakunya kewalahan dan jadi obrolan seru di media, kini istilah yang sama terjadi dalam grafik usaha menengah kebawah, seketika terjun payung dan memaksa beberapa diantanya untuk berhenti. Minat dan daya beli masyarakat berkurang dikarenakan keadaan, sebagian warung dan kedai kehabisan strategi untuk melariskan dagangan, promo ini promo itu, diskon ini, diskon itu tidak lagi menggugah nafsu, sebab keberlangsungan hidup(fungsional/secukupnya) lebih penting ketimbang memuaskan hasrat dilidah.
Apa Kabar Kalian?