BUDAYA, Ritual menyantap gorengan dipagi hari
Selamat pagi, ini adalah sebuah cerita tentang beberapa ritual yang berlangsung selepas fajar berlalu, rutinitas sebelum berangkat bekerja, aktifitas yang sudah sejak lama terwariskan tanpa perlu dipelajari, insting yang muncul dengan sendiri dalam benak masyarakat sederhana. Minggu pagi, disebuah pasar kecil yang hanya beroprasi dalam waktu yang singkat, yakni subuh sampai tengah hari, setelahnya tempat tersebut menjadi tempat yang biasa saja, ya sekedar pasar pagi kecil pinggir jalan di pinggiran kota Jakarta. Membeli bahan pangan untuk keluarga adalah rutinitas Ibu setiap paginya, kali ini giliran saya yang mengantar beliau berbelanja sayur kangkung, tempe, dan beberapa ayam potong sebagai lauk kami sekeluarga untuk hari ini. Hari masih gelap namun bila kami datang terlambat mungkin siang nanti kami tidak bisa melahap tumis kangkung buatan ibu, sebab pagi ini keadaan pasar dadakan cukup ramai dikunjungi Ibu rumah tangga yang sama-sama berburu bahan pokok untuk berlangsungnya hidup keluarganya. Bersyukur kami bisa berpartisipasi meramaikan dapur para pedangang sayur, bersyukur pula karna hari ini kami masih diberi kesehatan beserta rezeki untuk membeli lauk pauk yang layak, Terimakasih banyak untuk para petani, peternak, kurir, dan orang-orang yang tiap harinya bekerja membentuk sistem kehidupan yang berlangsung, tak lupa pula berterimakasih kepada wadah atau tempat dimana kita bekerja, entah itu menyebalkan atau menyenangkan, yang jelas mereka telah menjadi sumber penghasilan untuk terus melangsungkan hidup, terimakasih untuk seluruh tatanan semesta yang telah membentuk sistem sedemikian rupa, terimakasih Tuhan.
Teramat panjang ucapan terimakasih diatas adalah bentuk bersyukur yang memang sewajarnya begitu, kerap kali kita melupakan atau kurang menikmati rasa syukur, beragam cara dalam berterimakasih kepada semesta yang bekerja, salah satu contohnya adalah secangkir kopi dan gorengan dipagi hari, di sudut warung diantara penjual sayur dan nasi uduk, seorang ibu sebagai istri yang menyuguhkan kopi hangat dan gorengan untuk suaminya yang sedang menjaga parkiran motor para pengunjung pasar. Melihatnya sungguh sedap menyeruput kopi hangat selepas melahap gorengan yang dimakan bersamaan dengan lontong beserta cabai ditusuk dalamnya. Mengispirasi diriku untuk segera ingin melakukan ritual tersebut sepulangnya dari pasar. Yang ditunggu datang juga, ya Ibu beserta dua kantong belanjaannya yang menggantung di tangan kanan dan kirinya, menghampiri. Sebelum kami bergegas pulang dan Ibu memulai untuk mengolah hasil benanjanya, diriku meminta waktu sebentar untuk pergi membeli beberapa gorengan dan lontong di warung sang istri tukang parkir tadi, untuk dibawa pulang dan menikmatinya diteras rumah beserta kopi panas yang baru saja diseduh. Hmmm...
BUDAYA, entah kenapa ini adalah sebuah ritual yang sudah biasa dan menjadi budaya masyarakat kita, tanpa terajarkan, tanpa bimbingan, semua terwariskan dengan sendirinya, kebiasaan yang sangat sederhana namun berkesan dan memberi nikmat yang luar biasa nyamannya. Yaa, jalas semua ini saya dapat setelah saya mempraktikannya, melahap jajanan gorengan dan lontong sebagai sarapan sekaligus dorongan untuk menyeruput kopi hangat, di teras rumah semilir angin dan suara kicau burung hias tetangga, sungguh nyaman sekali. Quality-time untuk diri sendiri merenung dan sekaligus menysun rencana untuk aktifitas hari ini. Sesederhana itu masyarakat kita untuk mengucapkan rasa syukurnya. Jadi bersyukurlah dan berbahagialah untuk kalian yang diberi kesempatan untuk menghela nafas terlebih dahulu dengan melakukan ritual pagi tersebut, sebelum berangkat bekerja atau menuntaskan kewajibannya. Sebab momen tersebut amatlah mewah sekali untuk mereka yang tiap pagi kerap diburu waktu dan tergesa. Bersyukurlah ....
Tidak ada komentar: