Kelakar Satire dan Selera Humor



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti cerdas salah satunya adalah tajam pikiran atau seseorang yang memiliki ketajaman dalam berpikir. Seseorang yang berpikir cerdas ialah orang yang tidak terpaku pada penghapalan teori, mereka lebih kepada pemahaman konsep dan sering kali berimprovisasi dalam melakukan sesuatu hal yang lebih kreatif. Berbeda dengan orang pintar yang lebih tersistematis dan disiplin dalam suatu hal. Seseorang yang cerdas biasanya lebih terlihat santai dalam merespon suatu hal, ia tau kapan harus bersikap serius dan ketenangan adalah sebuah kunci untuk memecahkan sebuah masalah. Kecerdasan bukan hanya dalam pikiran atau intelektual, Ary Ginanjar dalam bukunya yang berjudul ESQ mengatakan bahwa kecerdasan Intelektual harus diseimbangi dengan kecerdasan Emosional dan Spiritual agar seseorang dapat lebih menghargai dan peduli terhadap sesamanya. Tokoh seseorang yang cerdas yang saya idolakan ialah Bapak Presiden Indonesia keempat, yakni Bapak Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus-Dur. Beliau adalah sosok cendikiawan yang ramah, begitu menghargai antar sesama manusia, sangat peduli terhadap masalah ras, suku, dan agama. Keberanian beliau membela hak-hak kaum minoritas yang tertindas membuat beliau mendapatkan gelar Bapak Pluralitas Indonesia.

Banyaknya kasus masalah ras, suku, dan agama yang sering terjadi saat ini membuat saya rindu akan sosok beliau (Gus-Dur). Sejak era pencerahan, kebebasan berbicara dianggap penting dalam demokrasi. Dibubarkannya Departemen Penerangan oleh Gus-Dur yang dimana menurut beliau sesuai ketentuan UUD, bahwa “Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan berpikir” dan itu hanya mungkin apabila DepPen di tiadakan. Harapan Gus-Dur dengan tidak adanya DepPen adalah agar masyarakat tidak di setir atau diatur dalam penerimaan informasi, arus informasi tidak boleh dikekang oleh negara. Jika negara atau suatu lembaga kekuasaan menentukan apa yang boleh dibicarakan dan apa yang tidak, tirani akan lahir. Seperti yang dikatakan oleh salah satu Rockstar era 60-an “Who control the media, control the mind” ucap Jim Morrison vokalis dari band The Doors. Namun karena belum siapnya sebagian orang dari masyarakat kita dengan majunya era komunikasi membuat banyak sekali ujaran kebencian yang terjadi di media sosial saat ini. Seharusnya kita bisa menjaga, mengatur, dan menyaring informasi yang berterbangan, bukan malah terprovokasi dengan isu-isu yang dibangun oleh sebagian kalangan. Bisa dibilang walau kini arus informasi sudah tidak lagi di kekang atau di atur oleh negara tapi ada sebagian orang yang mengatur hanya untuk kepentingan suatu kalangan. Saat ini kita butuh orang-orang seperti Gus-Dur untuk meredam kekacauan akibat banyaknya ujaran kebencian. “Kalau Gus-Dur ada masalah dibikin joke (gurauan), hal yang memicu konflik dibikin cooling down. Kata Gus-Dur kan gitu aja kok repot, ucap Luhut dalam acara tujuh tahun wafatnya Gus-Dur di daerah Matraman. Mungkin kalimat “Gitu aja kok repot” terdengar menyepelekan masalah, padahal tidak. Gurauan dan candaan adalah salah satu cara beliau untuk meredam sebuah konflik atau masalah. Seseorang yang cerdas adalah mereka yang dapat memahami kelakar-kelakar satire, dalam KBBI satire bermakna : “gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang”. Gaya bahasa atau majas satire memang tidak mudah, tidak mudah dilakukan dan tidak mudah dicerna. Butuh kecerdasan lebih, baik untuk si pembuat maupun si penerima. Ditambah lagi dengan sistem pendidikan di negeri kita yang tidak memberi ruang lebih kepada kita untuk menjadi kritis, jadi wajar saja kalau banyak dari sebagian kita yang lupa mengkritisi sesuatu informasi yang kita terima, kebanyakan lebih senang menelannya saja yang pada akhirnya menimbulkan banyak Hoax berceceran.

Membuat sesuatu bernada satire memang butuh kecerdasan yang lebih. Sebagai pembuat kita harus pandai-pandai mencari kalimat yang bisa menyembunyikan tujuan utama, namun tetap menusuk tajam. Dalam komedi majas satire kerap kali dibuat sebagai bungkus sebuah kritik, namun karena mungkin hanya sebagian orang yang dapat memahami hal itu, mereka yang cerdas lah yang dapat menerima sebuah pesan tersirat tersebut. Tidak banyak humor yang berbumbukan satire, sebagian orang mungkin menganggap Stand-Up-Comedy, Srimulat dan Warkop DKI adalah komedi yang cerdas dengan bumbu-bumbu satire-nya. Tidak seperti komedi slapstick yang mengandalkan fisik sebagai bahan leluconnya. Dari selera humor ini yang kemudian munculah dikotomi antara orang cerdas dan tidak cerdas, sah-sah saja ada orang yang membagi strata penikmat humor seperti itu, dan sah-sah saja kalau ada orang yang tidak setuju dengan pembagian itu. Kembali lagi itu semua soal selera, selera tidak bisa dipaksakan dan tidak selamanya selera berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan.

Bercanda atau bergurau adalah kegiatan yang menyenangkan sekaligus menghibur yang sering dilakukan oleh banyak orang. Dalam kehidupan, seseorang terkadang dihadapkan pada berbagai permasalahan, sesekali dibutuhkan penyegaran agar hidup terasa tidak terlalu berat atau menjenuhkan, salah satunya dengan bercanda. Para pemikir cerdas biasanya adalah orang-orang yang sering kali bercanda, contohnya seperti Gus-Dur dengan beragam kelakarnya. Seringkali beliau dianggap nyeleneh dalam setiap tindakan atau argumennya, namun bukan berarti beliau tidak serius dalam menyikapi semua itu, jusrtu keseriusannya yang dibungkus dengan sebuah candaan atau kelakar membuatnya terlihat cerdas, baliau tau dan paham akan keadaan kapan dia harus serius tanpa gurauan dan kapan serius dengan bumbu candaan, salah satunya seperti saat beliau keluar dari istana kepresidenan dengan menggunakan celana kolor pendek dan kaos oblong, pada malam itu dikatakan Gus-Dur bukan lagi Presiden Republik Indonesia, dan keluar istana dengan pakaian ala kadarnya. Tampilan seperti itu oleh sebagian kalangan dianggap tidak elok dan tidak memperlihatkan wibawa sebagai kepala negara, namun beliau dengan entengnya menjawab “Lha itu supaya saya enggak dianggap sebagai presiden. Orang jadi dingin hatinya enggak jadi marah menanggapi wawancara khusus dari Andy F. Noya di salah satu acara TV swasta. Banyak orang dan bahkan pemimpin dunia yang mengidolakan Gus-Dur dan kagum akan kecerdasannya, namun Gus-Dur tetaplah sosok yang sederhana dan menganggap kecerdasannya bukanlah segalanya dan enggan dianggap lebih pintar dari orang lain. Kecerdasannya tidak membuatnya jadi orang yang jemawa. Kembali lagi, karena ada pula orang yang berpikiran cerdas namun sombong karna ia merasa lebih hebat dari yang lainnya, itu sebab tidak diseimbanginya kecerdasan Intelektual dengan kecerdasan Emosional dan Spriritualnya.











Ini adalah sebuah tulisan yang saya buat demi memeriahkan "Lomba Opini Bersama Inqu-Id" 2018.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.