Persetan Penghuni Gubuk
Beberapa minggu belakangan ini adalah masa
dimana turunnya gelora produktifku dalam menjalani apapun, entah itu
urusan yang meterial dan non material. Entah karna berubahnya pola
tidur dan aktifitas atau memang karna ada unsur lain yang telah masuk
dan mempengaruhi keseimbangan diri, yang jelas saat ini adalah
masa-masa sulit bagiku.
Tak seperti biasanya yang merasa percaya diri
dan selalu tampil berani, kini diri ini merasa seperti hewan buas
yang kehilangan taring bahkan cakarnya atau bisa jadi hilang arah, ya
sepertinya, dan ternyata benar-benar sedang kamu
tersesat.
Aku adalah seonggok daging yang terlihat besar
dalam ukuran manusia dan umur yang sudah dewasa tapi tidak dengan
prilakunya, ya aku masih seperti anak-anak pada umumnya yang selalu
mencari perhatian terhadap lingkungannya. Entah perhatian apa ku tak
tahu yang jelas saat ini aku mencoba sedang mencari perhatian. Tapi
bukan berarti perubahan yang saat ini adalah tanda atas pencarian
perhatian ku, tapi memang saat ini diri ini sedang tidak bisa diajak
kompromi. Ya awan gelap menghapiri gubuk diri, bisa dibilang depresi
adalah namanya. Signifikan sekali bahkan diri sendiri tak menyadari.
Sikap tenang tak muncul lagi, ya biasanya selalu berucap “selow,
santai dan sans” sudah tak keluar lagi dari mulut sang penghuni
gubuk ini. Apa karna si penghuni gubuk ini sudah terlalu lama tinggal
dalam hutan nya sendiri dan tak mencoba untuk pindah ke pemukiman
atau kota, entahlah biasanya sang pemilik gubuk selalu berkunjung ke
kota dan berinteraksi dengan banyak orang, kini dia tak lagi mau
bertegur sapa dengan kerumunannya. Mungkin karna dia memang butuh
teman hingga dia menciptakan teman nya sendiri dengan imajinasi
sebagai lawan bicara saat sepi mulai menghantui malam gelap di
langit-langit gubuk.
Persetan dengan semuanya dia memang butuh teman
yang nyata bukan sekedar belahan roh sendiri yang ia ciptakan. Dia
butuh sesuatu yang baru, namun tak pernah berani untuk melakukanya,
dia sang penghuni gubuk adalah hipokrit yang berkepanjangan.
Persetan, aku tak tahu lagi ingin bercerita apa, Persetan semuanya,
Persetan untuk mu sang penghuni gubuk, persetan dengan taman imaji
mu, persetan dengan kesendirian mu. Aku sudah tak mau lagi mengurusi
mu, Persetan, kini kau harus cari orang lain, yang kau butuh orang
untuk merawatmu, mengawasimu dari kesintingan mu. Kau butuh sentuhan
halus Dewi Venus untuk menyadarkanmu, Hahahaha. Aku berani bertaruh
kau takan berani menemui dan meminta sang Dewi menemanimu dan
merawatmu, ya sudah jelas karna kau adalah orang yang terlalu
mencintai dirimu sendiri, Ego mu telah membutakanmu hingga sombong
bahwa kau bisa hidup sendiri dalam gubuk kecil milikmua itu. Ya karna
kau orang yang tak bisa terus terang apabila ada suatu hal yang
mengganggumu. Persetan, hahaha mampus.
Lebih baik kau mati dalam gubuk mu yang kumuh
itu, membusuk sendiri tanpa ada yang tau bahwa kau sudah menjadi
tengkorak yang tulangnya nanti akan segera di koyak kawanan serigala. Tak mungkin ada satu pun Dewa atau Dewi yang akan menghapirimu. Persetan

Tidak ada komentar: