Serigala Tanpa Kawanan
Siang menjelang sore di suatu
belantara hutan ada seekor serigala yang mencoba mencari santapan makan malam
untuk keluarganya yang sedang menunggu di sebuah tebing berbatu tempat biasa
para kawanan serigala berkumpul. Entah kenapa dia menelusuri hutan tanpa di
temani seekor pun temannya, tak seperti serigala pada umumnya yang selalu dalam
barisan apabila ingin mencari makan. Hingga penghujung petang tak seekor hewan
pun yang berhasil ia temui, sampai akhirnya di satu tempat aku memergoki dia
sedang menyeruput air di tepi sungai yang biasanya para penghuni hutan melepas
dahaganya disana. Dengan iseng aku coba bertanya “Hey Serigala, dimana teman-teman mu ? kenapa kau meninggalkan
kawananmu ?” dengan pelan dia
menghampiri ku dan berkata ”Aku sedang
mencoba membiasakan diriku untuk tidak bergantung kepada mereka(kawanan)”.
Loh kok begitu ? bukankah seharusnya kau ada bersama mereka sebagai pemimpin
para pasukan ? mengapa kau tinggalkan keluarga mu ?. Serigala itu bercerita
hingga mentari berpindah posisi dengan bulan dan bintang sebagai penerang
percakapan kami. Dia berpisah dari kawananya sebab dia sudah tidak lagi di
percaya oleh para kawananya, setiap kali dia bicara untuk menyusun strategi
perburuan dia selalu di cut oleh
sebagian kelompok yang ingin mendominasi dalam kawanannya. Mungkin karna dia
sudah tak lagi memiliki wibawa dalam memimpin ? atau karna taring dan cakarnya
sudah tidak tajam lagi ? tidak, bukan itu masalahnya. Sang Serigala adalah
korban dari kebencian salah satu serigala lainya. Karna apabila dalam satu
keluarga sudah muncul kebencian entah itu hanya satu, tapi itu sudah cukup
untuk menghancurkan dan memecah belah satu kerumunan. Sang serigala pergi bukan
berarti kalah dalam urusan politik, tapi lebih kepada rasa ke-tidak enak-kan seperti orang-orang(manusia) pada umumnya. Dia
lebih memilih mengalah ditimbang bertahan yang justru malah menambah simpul
kekacauan.
Tapi apakan menurut mu keputusan
yang ia ambil adalah keputusan yang tepat ?. Terkadang kita harus bisa melihat
dari berbagai sudut pandang untuk dapat menemukan satu keputusan yang
benar-benar tepat untuk di jalankan, disini aku melihat sang serigala hanya
mementingkan ego nya sendiri. Dia lebih memilih mencari aman tanpa perlu ambil
pusing. Setelah seminggu kepergiannya dari kawanan justru meninggalkan simpul
yang malahan bertambah kusut, kawanannya justru terpecah belah bahkan sampai
mengadu cakar dan taring antar saudara hingga akhirnya mereka menjadi kerumunan
yang lupa bahwa mereka adalah keluarga. Mereka kehilangan arah seperti kapal
tanpa nahkoda, mereka lupa siapa mereka sejatinya. Tak ada yang tak Paradoks
dalam dunia ini, contohnya seperti kisah diatas. Mungkin kau pikir mengalah itu
lebih baik, tapi terkadang juga itu bukan keputusan yang baik, justru terkadang
kita juga harus bisa melihat situasi. Tanpa kita tak melihat situasi pastilah
setiap keputusan yang telah kita ambil terkadang justru menjadi boomerang bagi
diri sendiri. Dan setiap berputarnya waktu tak pernah ada situasi yang
benar-benar sama. Terkadang Tuhan memberikan situasi yang terlihat sama namun
pola nya berbeda. Oleh karna itu kita harus pandai dan cepat dalam melihat
situasi, karna apabila kau hanya pandai melihat situasi tanpa cepat bertindak
itu sama saja kau kalah dalam pertempuran, kau pandai dalam melihat pola
serangan namun tangan mu tak cukup cepat dalam mengangkat perisai untuk menepis
ayunan pedang, kau akan terbunuh.
Selepas bercerita, tepat tengah
malam ku suruh sang serigala untuk kembali melolong di bawah bulan purnama,
sebagai tanda bahwa sang Alpha telah
kembali dan pertikaian harus sudah berakhir. Kembalilah dan uraikan simpul
kacaunya. Semua keputusan ada pada dirimu sendiri, tinggal bagaimana kau ingin
memilihnya, dan jangan pernah ragu dalam memilih karna keraguan adalah salah
satu cela masuknya kekalahan.
~ Muhammad A Fadhillah

Tidak ada komentar: