Arjuna Tertidur dan Aku Yang Selalu "Liar"

Apa kabar kasih ? apakah kau masih ingat kisah-kisah kita yang dulu sempat tak terurai hanya karna kita tak pernah mencoba untuk berani bicara sendiri? .Iya kita tak pernah bisa pecahkan misteri itu hingga kini terus menjadi mitos yang berkembang di tanah yang sering kita jejaki, tau kenapa? karna kita sama-sama telah menjadi pembohong. Kapan kita menjadi pembohong? jawabanya, sejak kita berbohong. Teman ku Albert Camus asal Prancis pernah berkata “to do is to be !” saat pertama kali kita mencoba untuk berbohong saat itu juga kita telah membuat jalur dalam sistem otak kita dan akhirnya menjadi kebiasaan tanpa perlu diproses kembali karna telah terbentuknya rute kebohongan.


Yaa!, akulah seorang pembohong yang cukup ulung kalau di bandingkan dengan para tokoh fantasi yang pernah kau jumpai, dan pandai dalam menyembunyikan sebuah rasa, Tapi ingin ku beri tahu bahwa aku lebih ahli dalam kebohongan perihal rasa didalam dada, tau kenapa? Karna rasa ku telah terlalu lama mati  hingga akhirnya kau datang menyalakan mesin-mesinya kembali. Lalu kucoba untuk menarik Gas tipis-tipis namun ternyata ada sedikit kendala yang membuat roda ini tak mau berputar. Kendala itu ada pada si pengemudi, sang kusir ini ternyata masih berada dalam wilayah yang telah di lingkari dan tak ingin berpindah keluar menembus garis yang dimana di luar garis tersebut ada badai yang sedang menunggu untuk di datangi. 


Ternyata sang kusir kereta kencana milik ksatria ini masih di kelilingi awan hitam yang biasa di sebut keraguan dan bahkan bisa juga ketakutan mungkin ada pada dirinya. Aku jadi teringat
"Bhagavad Gita" dimana saat itu sang Arjuna sedang dilanda keraguan untuk memulai perang akbar Barattayuda dan beruntungnya sang Basudewa Kresna ada di sampingnya sebagai kusir sekaligus penasehat ulung para pandawa, dan aku disini sendiri tanpa Kresna yang ada untuk menasehati, oh mungkin karna aku ini memang bukan ksatria layaknya Arjuna yang kau dambakan duhai sang dewi. Aku hanya seorang kusir kencana yang tak memiliki arah untuk di tuju, walaupun aku tahu kau adalah tujuan dari segala yang menuju, tapi di atas kencana ku ini tak ada sesosok Ksatria yang tangguh dan berani menjemput mu untuk memulai perjalanan cinta menuju taman swarga lapis ke tujuh. tak ada keberanian di atas kereta kencana ku ini.

Apakah kau tahu wahai dewi ? bahwa kita sedang berputar pada roda yang sama, namun kau berada di sisi atas dan aku ada di sisi sebaliknya yang apa bila kita berputar itu tak kunjung berjumpa. Dan apakah kau sadar bahwa kita sedang memberhalakan bahasa? .Dengan kita yang selalu mengirimkan surat-surat memalui burung hantu layak nya tontonan kesukaan mu itu adalah salah satu contoh bahwa kita tak memiliki keberanian untuk mencoba bertatap muka karna sepasang mata mu adalah bencana yang membuat ku tak bisa berkata, kita masih ada dalam lingkaran-lingkaran kecil terpisah yang kita buat sendiri tanpa mau untuk menyatukanya dan menjadi satu lingkaran yang besar. Ya, mungkin kau menyalahkan ku atas keadaan ini karna seharusnya sosok Ksatria itu ada diatas kereta kencana sukmaku, tapi apakah kau tak ingin mencoba untuk membangunkan sosok itu seperi awal kau menyalakan mesin kencana ini. Bantulah aku dewi, bantu aku membangunkan Arjuna yang saat ini sedang tertidur, agar aku bisa bergerak mengangkat busur Gandiwa dan menghujani mu dengan ribuan panah yang kau dambakan, karna aku tau kau mungkin sudah bosan dengan hujan kata-kata yang selalu ku kirimkan dari pesisir pantai.

Aku selau bicara perihal waktu, waktu, dan waktu, dimana aku selalu menunggu Batara Kala sang penguasa Waktu untuk bergerak menghapiri kita. Namun ternyata sang Dewa tetap di tempat pertapaanya, yang artinya kita lah yang harus mendatangi dan memunculkan waktu tersebut. Tapi kapan ya dewi? seharusnya sudah tidak ada lagi "kapan" diantara kita yang harus ada ialah "kini' yang kita hadirkan. Jadi bantulah aku dewi, turunkanlah keberanian pada kusir kencana ini agar bisa menghujami seluruh ketakutan yang mengelilingi dengan panah-panah dari busur yang kau beri, agar tak ada lagi kebohongan yang memayungi selayak awan hitam yang menutupi sinar kejujuran matahari.

Dan maaf apabila surat ini tak terlalu mudah untuk dipahami, karna aku selalu waspada apa bila si burung hantu pengantar pesan tak langsung sampai kepada mu alias mampir kesana kemari dan di baca oleh beberapa orang. Maka dari itu aku sedikit memakai Enkripsi istilah dalam dunia Cryptography, karna hanya kau yang mampu pecahkan sandi dalam surat ini, karna kau adalah Dewi yang mengetahui isi hati.





















Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.