Kau Hanya Diam, Dan Aku Tak Punya Indra Ke Enam
Raut
wajahmu
sore itu ya Dewi, buat ku tenggelam dalam rupamu menuju palung senja
yang tak berarah.
Sebenarnya aku yang “kenapa” apa engkau yang “mengapa” ?, kita berdua
seakan
ada dalam kebisuan yang saling terhubung dan tak satupun Dewa, hewan,
tumbuhan,
bahkan jin dan siluman tahu bahwa kita sedang saling merindu, kita
saling
bercumbu, saling mencandu dan merintih dengan waktu. Tapi aku tak tahu
kenapa
engkau hanya terdiam, dan aku tak punya indra ke enam tak dapat mengerti
apa
mau mu. Aksara-aksara yang kau ciptakan tak terbentuk dalam tingkahmu,
aku pun
juga begitu, semua puisi dan syair yang ku tulis rimanya tak tersusun
dalam
sikapku. Mohon ampun ya Dewi, bukan maksudku mengombang-ambingkan jiwa
mu, aku hanya tak
mampu membaca Bahasa cintamu, keraguan masih terus mendatangiku saat
kita ingin
mencoba berpadu. Tapi akan selalu ku coba untuk membiasakan semuanya
agar tak
lagi ada sang senyap yang terus datang menghatui programa kita, agar tak
ada lagi
beku yang muncul saat empat bola mata saling bertemu. Untuk apa kita
saling
berbalaskan kata lewat para burung hantu yang terbang membawa surat
antar
khayangan dan bumi tempatku berpijak, jika ternyata kita hanya selalu
diam dan
canggung saat bertemu. Aku ragu sang burung salah memberiku surat yang
katanya
dari mu, ya aku ragu karna isi dari surat itu tak sedikitpun terlihat
dalam
sikap mu. Apakah ini memang permainan mu duhai sang Dewi ? atau hanya
kira ku
saja engkau sedang menggandrungiku ? mungkin memang hanya firasatku,
mungkin
memang bukan aku lah orangnya yang ada dalam simbol mu. Sudah hampir
satu purnama kita tenggelam dalam bisu, tapi Dewi jika memang
benar burung hantumu itu yang datang padaku dan tidak salah membawa
surat yang
kau buat, kau tunjukkan lah wujud aslimu di hadapan ku, nampakkan lah
sosok
dirimu yang sebenarnya, agar jiwa ku tak larut dalam buaian kilau cahaya
mu.
Kau lah Dewi, engkau punya kuasa atas semua makhluk fana seperti ku,
aku hanya ragu, karna engkau hanya terdiam, dan aku tak punya indra ke
enam.
Alam Nyata, 22 April 2017
~ (se)Syad
~ (se)Syad

Tidak ada komentar: