AADC 3
| Arti kata "Cinta" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. |
Apakah cinta itu saat kau menyukai seseorang karna dia pintar, cerdas, berilmu dan bijak ?, sayangnya itu bukan cinta, itu hanya lah rasa kagum mu. Kamu menyukainya karna dia baik hati, perhatian, dan peduli ?, sayangnya itu juga bukan cinta, namun butuh. Kamu suka seseorang apa adanya dia, semuanya tentang dia, apapun caranya dia, itu pun bukan cinta namun ngefans/menggemarinya. Kamu suka seseorang karna perjuanganya, pengorbananya untukmu, itu bukan cinta, namun rasa belas kasihmu. Dan kamu menyukai seseorang karna dia tampan, cantik, kaya, feminim, maskulin, itu bukan cinta, namun nafsu.
Jadi bagaimana yang dikatakan cinta? Jika kamu
mencintai seseorang lalu ditanya alasanya, kamu pasti tak bisa menjawab. Kamu tidak
tahu mengapa dan kenapa bisa terjadi. Kamu tidak mengerti mengapa pula bisa
seperti itu. Cinta seperti anugrah yang sudah digariskan Tuhan. Cinta ialah
keindahan Tuhan, dan akan dipertemukan disaat waktu yang tepat sesuai
rencanaNya. Kapan dimana dan siapa tidak ada yang tahu. Cinta memang tak butuh
alasan. Cinta tanpa pengharapan apapun dan tanpa motif apapun. Cinta tak butuh
kata “karena”.
Saya sangat sepakat dengan Sujiwo Tedjo yang
mengatakan bahwa cinta itu tak pernah butuh alasan. Jika engkau masih memiliki
alasan dalam mencintai, maka itu bukanlah cinta, tapi kalkulasi. Itulah kenapa
ketika ada laki-laki yang mendatangi anak perempuannya, ia selalu menanyakan,
“Kenapa Engkau mencintai anakku ?”. Dan kalau si lelaki bisa menjawab, maka
langsung disuruh pergilah ia, karena memang menurutnya cinta tak pernah butuh
alasan, cinta tak butuh kata “karena”.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa cinta memang
harus ada alasan, karena memang kadang munculnya cinta diawalai dengan beberapa
alasan umum seperti karena dia baik, cantik, kaya, dsb. Tapi tetap saja menurut
saya cinta yang paling tinggi tingkatannya adalah cinta yang tak pernah
mengenal alasan.
Engkau bisa melakukan hal gila apapun untuk yang
kau cintai, dan ketika ada yang bertanya kenapa engkau rela melakukan itu semua
untuk dia, maka tak ada yang lain yang keluar dari bibirmu, kecuali jawaban “karena
aku mencintanya”.
Kau rela berlelah-lelah, bersimbah darah dan
memberikan apa yang kau bisa dan yang kau punya hanya untuk yang kau cintai,
dan ketika kau ditanya kenapa kau melakukan itu semua, kau hanya bisa menjawab
: “Karena aku mencintainya”.
Ketika kau merasakan sakit yang dalam karena
orang yang kau cintai, merasakan kecewa yang tak terperikan karena dia
melukaimu, kau bisa dengan sangat mudah memaafkannya. Dan ketika ada yang
bertanya kenapa kau bisa begitu saja memaafkannya, kau hanya bisa jawab :
karena aku mencintainya.
Cinta bukan mereka yang selalu datang setiap saat
kepadamu, bukan yang selalu bersikap manis kepadamu dan menghabiskan waktumu.
Namun ialah ia yang mampu memperbaiki hidupmu, tak ingin membuatmu kawatir
dalam situasi apapun. Saling memiliki kepercayaan tak perlu memberikan kabar
setiap detik namun yang mampu memberikan kepastian. Tak pernah mengungkapkan
cinta namun sudah terbukti melalui perbuatan. Bukan seseorang yang selalu
bertanya keadaan namun yang selalu mendoakanmu dalam setiap waktunya. Terkadang
cinta membuatmu gila, melakukan suatu hal yang tak masuk akal, tapi ketika
ditanya kenapa bisa seperti itu, maka kamu akan menjawab “karena aku
mencintainya” lantas kenapa dan mengapa kamu bisa mencintainya? “karena aku
mencintainya, dan aku tak punya alasan mencintainya”. Cinta beralasan itu hanya
akan memberimu batas, singkatnya seperti ini, kamu cinta dia karena dia kaya
dan tampan, apakah setelah dia miskin kamu tidak cinta? Apakah setelah dia
tidak tampan lagi tak gagah kembali karena menua kamu tidak lagi cinta?. Yeah,
Love does’nt need a reason.
Bahkan ketika semua yang kau lakukan tak pernah
berarti di hadapannya dan dia memilih mencintai orang lain, kau
mengikhlaskannya dengan mudah. Dan ketika banyak orang yang terheran-heran
melihat keikhlasanmu membiarkannya pergi setelah apa yang kau lakukan untuknya,
kau hanya mampu menjawab : “Aku ikhlas karena aku mencintainya. Aku
mencintainya dengan cara yang lain, dengan cara untuk tak memilikinya, karena
jika memang ia lebih baik dengan yang lain, ya sudah, aku ikhlas.”
Ya, jika engkau masih merasa bahwa semua yang kau
lakukan untuk mencintai adalah sebagai sebuah pengorbanan, maka itu bukan
cinta, karena cinta tak pernah butuh pengorbanan. Ketika engkau merasa engkau
sudah berkorban, maka itu adalah kalkulasi. Itu bukan cinta.
Well… Mungkin cinta yang semacam ini terkadang
masih sulit untuk kita lakukan, karena sedikit banyak pasti kita juga berharap
mendapat timbal balik dari upaya kita untuk mencintai, minimal kita juga
berharap dicintai dari seseorang yang kita cintai. Saya pikir, itu wajar,
seperti seseorang yang mencintai Tuhannya karena beberapa alasan, seperti
karena takut pada Tuhannya, takut pada murkanya, dan mkenginginkan dapat
surganya. Menurut saya, ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam mencintai
Tuhan. Berbeda dengan para sufi yang jika ditanya kenapa engkau mencintai
Tuhanmu, hampir bisa dipastikan bahwa mereka tak punya alasan untuk itu. Ia
mencintai Tuhannya karena ia memang bener-bener cinta. Tak ada alasan lain.
Maka, jika engkau masih punya alasan untuk
mencintai, sesegeralah berupaya untuk membuat cinta itu tak beralasan.
Berusahalah untuk membuat cinta tanpa berharap apapun dan tanpa motif apapun,
kecuali karena kau memang ingin mencintainya.
Tidak ada komentar: