Part 1 (Jumpa Semata)


            Hay bunga tulip ku, Selamat pagi, siang, sore, atau malam saat kau baca surat ku ini. Bagaimana kabarmu disana ? apakah kau baik seperti biasanya atau engkau kini sudah seperti wanita atau remaja pada umumnya yang tiap harinya menggalau entah kenapa ? ,Aku hanya khawatir kau bukan lagi tulip ku yang warna-warninya selalu menghiasi taman batin ku seperti biasanya. Oh iya kira-kira sudah berapa lama kita tidak bertemu ? apakah kau rajin menghitung setiap detik menit bahkan hari lamanya kita berpisah ? sayangnya aku tidak pintar dalam hal matematika jadi sudahlah tak ku hitung meteran waktu kita merindu. Di surat ku yang pertama ini aku hanya ingin bilang bahwasanya kini aku telah pulang dari abad Jahilia dan kembali ke tahun dimana engkau berada, aku pulang membawa cerita dan naskah cinta dari beberapa dekade yang ingin ku bagi dengan mu. Entah dari mana aku ingin memulai bercerita karna terlalu banyak salam dan pesan dari para fans mu yang kutemui di lintas waktu yang ku lewati. Okeh jadi dari mana aku harus mulai ? “Hahaha”, baiklah aku akan mulai dari saat kami sedang ngopi-ngopi di salah satu bar yang berisikan koboy-koboy mabok, disana aku bertemu koboy tanggung, namanya Johny, mungkin karna saat itu kami masih di jaman Orde Baru pak Harto menganjurkan untuk mengindonesiakan nama asing ke nama Indonesia dengan ejaan lokal, jadi ku ubah namanya jadi Joni. Diantara para pelanggan Bar, kebetulan hanya kami berdua yang pesen kopi sedangkan yang lain sudah sibuk nge-beer sore-sore, mungkin bila kami datang kesini pada tengah malam kami juga bakal ikutan mabok bareng koboy-koboy gila ini. Tapi ku anggap mereka kurang bisa menikmati momen atau suasana, karna jam-jam segini (kira-kira jam 16.45an) itu paling enak ngopi sambil menghadap barat melihat sang surya pergi berpindah menyinari sisi bumi yang lain. Sembari aku menyeruput kopi hitam ala ‘de RocknRoll bar ini si Joni malah sibuk ngelamun sendiri,  “What’s wrong John.?” Celetuk ku sambil membakar rokok, si Joni cuma mesem sambil geleng-geleng dan belum mengucap satu katapun, mungkin karna doi belum panas jadi mesinnya gakmau jalan (ngomong), kutawari Joni rokok khas kudus yang kuberi dipinggir jalan “nih Jon.. sebat dulu kali” . Si Joni tetap melamun, walau asap rokok yang dia hisapnya belum keluar dari mulut, hampir satu jam lebih sebelum si Joni ini mulai bicara, “Kau tahu teman, aku yang tadi di sampingmu itu bukan lah aku. Jelas raga ku masih ada disini, tapi jiwa dan pikiranku pergi entah kemana” kalimat sambutan membuka pembicaraan kami. Aku masih bingung perihal apa yang tadi Joni ucapkan, diamnya Joni tadi jelas bukan sekedar diam, bukan juga hanya melamun. Diam nya adalah perjalanan jiwa yang pergi melintasi ruang waktu, tapi masa waktu yang mana yang ia singgahi sampai-sampai meninggalkan raga bahari ?.

                Joni mulai cerita bahwasanya dia telah pergi ke masa lalu, masa dimana romansa gundah melanda di salah satu kisah dalam pustaka cintanya. Dimana saat itu Joni hanya bisa mengagum dan menggumam karna alasan yang tak ia tau. Di kisahnya tersebut ia beradu peran dengan seorang wanita bernama Nevitaria, sekilas saat aku mendengar nama tersebut teringat salah satu putri dari negri gurun Arabasta yang sempat diasingkan dan menjadi perompak Nefertari Vivi namanya, tapi ternyata bukan hanya mirip saja, tapi aku rasa walaupun dia bukanlah Vivi putri kerajaan Arabasta tapi dia tetap putri, putri dalam istana cita prince Johny. Ada apa denganya Jon? Apa yang dia lakukan hingga jiwamu tergoncang dan pergi membuka album rasa mu?. Awal mulanya Joni bertemu denganya saat sedang nyantai di sebuah saung di belantaran sungai Meuse negri kincir angin, dia melihat ada dua pasang gadis yang pulang dari pasar membawa bahan makanan titipan ibunya. Pandangan pertama yang sebenarnya biasa saja tak berkesan, tapi disitulah rahasia semesta berada, terkadang kesan pertama atau first impression begitu penting, khususnya bagi yang ingin menjalin benang asmara. Tapi semesta berkata lain, awal pertemuan yang berlebih hanya akan membutakan indra, dan hanya akan bertahan sesaat menghantui benak seperti orang lewat. Berbeda dengan pertemuan yang tak cenderung asik dan tak memberikan kesan “Wah” tapi malah justru mengantri ribuan cerita rasa dibaliknya yang tak di terka. Naskah tuhan yang maha elok, ciptakan skenario panggung rasa yang maha dahsyat, membuat para pelaku dan korbanya berada dalam mega rasa yang menggila.




Tunggu lanjutanya !

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.