Perihal Warna Tubuh

Siluet dan Sunset

Bermula dari keluhan para teman-teman selepas berlibur di salah satu pulau yang berada di ujung barat pulau Jawa. Banyak yang mengeluh tentang berubahnya kulit mereka menjadi Hitam dan memerah terbakar karna paparan sinar mentari yang setiap hari kita jumpai. Mereka menjadi kurang PeDe sebab merasa dirinya akan menjadi jelek/terlihat buruk bila pigmen kulit mereka mulai menggelap, mereka mulai ketakutan apabila makin berkurangnya ketertarikan lawan jenis terhadapnya. 

Dan Saya hanya berkata dengan tenang dan santai bahwa “HItam kulitku adalah hasil dari Petualangan ku” dengan harapan bisa berbagi sedikit kepercayaan diri saya ke mereka, “Rilexkeuun Jaaang Hahaha”.

Disini saya ingin sedikit bercerita dan berbagi keluhan yang kami alami, menurut saya soal trend atau acuan para anak-anak muda tentang kecantikan/ketampanan atau keindahan raga itu sebenarnya hanyalah ilusi yang mereka buat sendiri. Banyak orang berbondong-bondong membeli produk kecantikan serta menyakiti diri sendiri hanya untuk terlihat sempurna di mata para manusia, tanpa pedulikan Jiwa mereka, semua sibuk memperindah bagian luarnya saja. Bukan berarti saya sendiri tidak peduli soal keindahan raga, saya juga perlu merawat tubuh cuma tidak dengan merubah keseluruhannya dengan memaksa. Memang penting perawatan tubuh itu, tapi dalam batas yang sewajarnya saja.

Okeh kembali ke pokok pembahasan yang ingin saya bicarakan. Yang ingin saya bahas disini adalah, kenapa kita harus baracuan bahwa kita harus menjadi putih agar terlihat bersih dan percaya diri ? apa karna putih itu bersih dan Hitam itu berarti kotor ? ,ini sungguh tidak adil kan?.
Saya akan lebih membahas dari sudut pandang pria, karna banyak pria yang kurang pede soal warna kulitnya yang hitam dan mereka jadikan alasan untuk tidak mencari pacar “Hahahaha”. Dan ini dulu juga sempat menjadi permasalahan saya, Saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kira-kira umur 8-10an lah, masa itu saya sempat di ejek bahkan di olok-olok karna warna kulit bahkan saya sempat ngambek dan protes ke Bapak saya “Ini semua salah Bapak, coba bapak putih pasti saya juga putih” bapak pun hanya tertawa “Hahaha” sembari Ibu menenangkan saya dan bicara “Gapapa, Wajar anak Lanang”. Saat itu saya mulai berfikir dan mulai mencerna apa yang sempat Ibu bilang, bahwa kita sebagai Anak Lanang atau Lelaki memang sudah sewajarnya bila kulit kita menghitam, karna kita ditakdirkan untuk hidup diluar dan menghadapi sang Mentari, dan saya bersyukur atas apa yang telah terjadi, seperti warna kulit yang menggelap dan banyaknya bekas luka itu adalah hasil dari petualangan kecil ku mencari pengalaman dunia luar semasa kecil. Mungkin bila dulu saya hanya berdiam diri dirumah tanpa bermain keluar ,sawah, kebon, sungai, dan lapangan mungkin hanya acara Televisi saja yang kita tau, dan mungkin khasanah cerita ku tak akan sebanyak sekarang. 

Sedikit pesan untuk para lelaki yang masih mengeluhkan tentang permasalahan hitam dan putih warna kulit mereka, tak usah takut lagi, saya selalu mengingatkan pesan Ibu saya bahwa kita sebagai Lelaki memang sudah sewajarnya, memiliki warna kulit menggelap tangan yang kasar, karna kita nantinya adalah para Ayah dan Suami yang siap bekerja keras demi Anak dan Istri, menceritakan pengalaman petualangan masa kecil dan pembelajaran ke pada anak-anak kita kelak. Dan bukan berarti disini saya menyudutkan para Lelaki yang memang mempunyai pigmen/gen yang tidak bisa menggelap, kita tahu semua punya ceritanya masing-masing. Dan tulisan ini sebenarnya juga adalah tanda pembelaan diri dari saya ”Hahaha” untuk yang masih suka menjadikan permasalahan warna kulit sebagai bahan bercandaanya. Karna saya sendiri sadar bahwa faktor Ekonomi juga terlibat didalamnya, contohnya seperti saya biasa nongkrong di warung pinggir jalan yang panas dan terkena paparan sinar sang Surya, dengan mereka yang sibuk jajan di dalam Mall, Cafe atau gedung-gedung lainya yang memiiki mesin penyejuk di setiap sudutnya, dan kami para pengendara roda dua yang setiap harinya dihujani sinar mentari bermandikan butiran debu jalananya, dengan mereka yang berlindung dibalik payung besi bertutupkan kaca film sebagai tameng dari kilauan mentari.
Jadi, sebenarnya semua itu wajar karna “ada sebab dan akibat”, kalian ingin menerima atau menolaknya itu urusan pribadi masing-masing. Dan mulai sekarang saya harap sudah tidak lagi ada yang minder atau kurang PeDe perihal warna kulit, dan tidak menjadikanya bahan bercandaan yang menurutku agak sedikit menyenggol kata Rasis

Terimakasih




Check this Video :


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.