Part 2 (Tahu Tak Tahu)


                Joni dan Nevitaria ternyata dipertemukan kembali dalam satu ruang dimensi yang lain, satu caturwulan setelah pertemuan pertama mereka di tepi sungai Meuse, kini mereka ada dalam satu loka, tepatnya di Kota Genusita. Tak disangka-sangka mereka bekerja di satu Kedai Kopi yang sama, si Joni jadi barista nya dan lawan mainya sebagai waitress bersama ketiga temanya. Setiap harinya mereka bertemu dan bercanda layaknya seorang teman biasa. Hingga akhirnya dalam satu waktu timbul ketertarikan antar keduanya, entah hanya terkaan si Joni bahwa sang putri tertarik atau memang dia telah terkena panah sang Eros hingga akhirnya mulai timbul percikan geni rasa. Selepas kerja sang putri selalu pergi dan bermain dengan ketiga temanya, Angie, Jane and Fanny, mereka biasanya pergi ke berbagai tempat hiburan, entah apa yang mereka cari, yang pasti salah satunya mereka ingin melepas beban duniawi. Aku jadi teringat kota Jakarta, tahu kenapa banyak sekali tempat hiburan di kota metropolitan ini ? itu karna banyak sekali sebagian dari masyarakatnya yang cenderung Stress, maka dari itu tempat-tempat hiburan seperti diskotik, clubbing, atau café-café dan sejenisnya laku disini, ya hanya untuk melepas penat mereka atas semua yang mereka dapat dari aktifitasnya yang begitu-begitu saja. Cuma Joni yang masih tinggal di dalam Kedai walau pintu depan sudah berganti dari Open ke Closed, mungkin karna dia bingung ingin mencari kesibukan apa lagi selain ngopi dan mendengarkan musik di radio, tapi sesekali dia juga pernah ku pergoki sedang membaur dengan para pelanggan di salah satu Café tersohor di wilayahnya sambil tertawa lepas tanpa beban. Sempat aku berkunjung ke Kedai tempat mereka bekerja dan memesan segelas kopi pait dari biji kopi asal papua, saat itu untuk pertama kalinya aku bertemu gadis yang sedang Joni bicarakan, kebetulan sekali dia yang mengantarkan kopi pesananku, tak heran bila Joni yang biasanya tak pernah gelisah dalam artian selalu baik-baik saja kini mulai berani bermain cinta, sebab si Nevitari ini memang sepertinya punya daya magis yang membuat pria di sekelilingnya tertarik, tapi aku tak tahu apa memang gadis ini punya daya magis atau aku dan Joni saja yang merasa seperti itu, karna hanya dia dan temanya, Angie yang belum memiliki pasangan berbeda dengan Jane and Fanny yang tiap hari kekasihnya menunggu mereka pulang bekerja di depan Kedai. Timbul pertanyaan di benak ku hingga ku sela cerita Joni dan bertanya  “Hey Jon, bukanya kalian sudah lama saling mengenal, tapi kenapa baru sekarang kau mulai tertarik ?”. Joni kembali terdiam dan mulai membakar batang rokok ke-dua-nya.



            ”I don’t know man..” celetuk Joni sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin. Aku jadi teringat saat diriku sedang mampir ke Boston di abad 19 awal bertemu dengan penyair sekaligus seniman asal Lebanon yang saat itu masih duduk di bangku sekolah umum, Gibran namanya. Dia pernah bilang bahwa “Cinta itu kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad”, kan tetapi kalimat itu menurutku hanyalah kiasan di awal, cinta yang seperti itu datang pada saat keyakinan saat pandangan pertama. Sedangkan berbeda dengan apa yang pepatah Jawa biasa katakan pada saat pendekatan asmara nya “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, yang artinya Cinta karna terbiasa, dimana menurutnya Cinta itu bisa dibangun dengan pendekatan yang tekun, hingga terbiasa, jadi bedanya walau di petemuan awal tak sedikitpun timbul secuwil rasa, itu tak jadi masalah, sebab rasa itu bisa dipupuk dan di cicil hingga terbangunnya taman asmara itu. Tapi cinta yang ceperti itu juga bisa disebut bukan cinta, karna sesuatu yang terbiasa itu ada unsur sebab-akibatnya, kenapa dan karena. Contohnya orang yang sering menanyakan alasan mengapa, yang dia bilang cinta itu tanpa alasan, sebab cinta itu bukan karena


Lalu apakah semua devinisi Cinta yang telah ada di masa yang lampau, yang tercipta tidak ada yang benar? ,semua saling beradu argumen perihal arti sesungguhnya. Tapi menurutku semuanya tidak ada yang salah maupun benar, karna setiap korban dan para pelaku cinta mereka mempunyai rasa yang berbeda-beda, mereka tak sama, mereka sendirilah yang bisa mendeskripsikan mega rasanya, tak bisa diwakili. Maka bagaimana dengan apa yang dirasakan Joni, aku pun tak tahu, karna siapa lagi yang tahu isi hati seseorang selain dirinya dan sang pencipta. Tapi bila aku dapat mengerti apa yang ada dalam hati manusia, aku hanya ingin mengerti isi hatimu Nevitaria, tahu kenapa ? karna aku ingin my bro Joni baik-baik saja. Sebab aku ingin jadi orang pertama yang tahu bahwa isi hati mu bicara tidak, agar dia selamat dari palung rasa yang menyayat, yang bisa kuselamatkan sebelum terlambat.

           
 Tapi Nevitari, aku mulai meragu dengan mu, atau hanya indra ku saja yang bebisik, bahwa sepertinya kini aku juga mulai jatuh ke wilayah kamaratih matamu?. Aku juga tak tahu.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.